Keponakan Setya Novanto yang juga bos PT Murakabi Sejahtera, Irvanto Hendra Pambudi, dan politikus PDI Perjuangan, Olly Dondokambey, juga dihadirkan dalam persidangan hari ini.

Sebaran investasi di luar Pulau Jawa semakin meningkat pada kuartal pertama tahun ini dengan capaian Rp 75,3 triliun dan berkontribusi 45,4 persen dari total investasi. “Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 44,9 persen,” kata  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Rabu, 26 April 2017.

Sedangkan realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar Rp 90,5 triliun atau 54,6 persen. Kendati investasi luar Jawa tumbuh lumayan, BKPM mencatat realisasi investasi berdasarkan lokasi 5 daerah terbesar, yaitu Jawa Barat (Rp 29,3 triliun atau 17,7 persen), DKI Jakarta (Rp 24,2 triliun atau 14,6 persen), Jawa Timur (Rp 12,6 triliun atau 7,6 persen), Banten (Rp 12,4 triliun atau 7,4 persen) dan Jawa Tengah (Rp 11,9 triliun atau 7,2 persen).

Berdasarkan sektor, Kepala BKPM menuturkan PMA dan PMDN banyak mengalir ke sektor usaha pertambangan (Rp 23,6 triliun atau 14,2 persen); industri makanan (Rp 18,5 triliun atau 11,1 persen); transportasi, gudang dan telekomunikasi (Rp 18,4 triliun atau 11,1 persen; listrik, gas dan air (Rp 16,7 triliun atau 10,1 persen); dan industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik (Rp 15,2 triliun atau 9,2 persen).

Dari negara asal investasi PMA, Kepala BKPM melihat tidak ada perubahan. Lima besar tetap ditempati Singapura (US$ 2,1 miliar), Jepang (US$ 1,4 miliar), Tiongkok (US$ 0,6 miliar), AS (US$ 0,6 miliar) dan Korea Selatan (US$ 0,4 miliar).

Berdasarkan hasil tersebut, Lembong memproyeksikan tren investasi Tiongkok akan tumbuh signifikan ke depannya.  “Tiongkok sudah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dan nomor satu di Asia, jadi wajar negara ini jadi investor nomor satu di Asia,” ungkapnya.

Lembong menekankan pentingnya penanaman modal dari AS karena kualitasnya investasi yang mengusung teknologi tinggi, merek canggih dan jaringan ekspor yang penting untuk Indonesia. Kasus Freeport, meskipun tergolong kasus high profile, tidak mencerminkan kondisi investasi secara umum.  “Investor melihatnya sebagai special case,” tegasnya. @DEWI